Politik Uang, Ya atau Tidak?

Pagi ini ada yang berbeda dari biasanya. Saya paling benci menonton berita yang ditampilkan oleh TV One, karena menurut saya para presenter beritanya terlalu kritis dalam menyampaikan opini mereka, terkadang berkesan tidak sopan karena menyela pembicaraan orang lain. Tapi kali ini, entah mengapa saya malah menonton berita di TV One. Ada satu topik yang menarik perhatian saya, yaitu tentang Politik Uang/Money Politics.

Pemilu baru akan dilaksanakan pada tahun 2014, tapi banyak partai politik yang sudah mulai tebar pesona. Salah satu yang paling gencar melakukan tebar pesona adalah Partai Nasional Demokrat (Nasdem). Entah berapa ratus juta yang sudah mereka keluarkan untuk membuat iklan di televisi maupun media massa lainnya. Saya yakin tidak hanya Partai Nasdem yang melakukan hal ini, partai yang lain pun pasti melakukan hal yang sama dengan Partai Nasdem.

Dalam pemberitaannya, TV One menyebutkan bahwa Partai Nasdem berencana untuk memberikan modal kepada calon legislatif (caleg) masing-masing sebesar 4-5 milyar rupiah. Jumlah yang sangat fantastis, mengingat Indonesia terdiri dari 33 provinsi dan ratusan kota/kabupaten. TV One juga menyampaikan bahwa politik uang masih mewarnai demokrasi di Indonesia, dan menurut mereka apa yang dilakukan oleh Partai Nasdem dengan memberikan bantuan modal tersebut justru akan menyebabkan semakin tumbuh suburnya politik uang.

Ada benernya juga sih pendapat mereka. Politik uang biasanya dilakukan oleh para caleg dengan membagikan uang tunai atau sembako kepada masyarakat. Tidak hanya masyarakat yang tidak mampu tapi juga masyarakat golongan mampu ikut berebut untuk mendapatkannya padahal hanya Rp 20.000,-. Astaghfirulloh…mental seperti inilah yang sebenarnya membuat masyarakat Indonesia sulit untuk maju. Semua berpikir praktis dan gratis.

Coba kalo modal untuk para caleg tersebut dialihkan menjadi pinjaman modal usaha tanpa bunga bagi masyarakat tidak mampu yang dapat dikembalikan sewaktu-waktu jika usaha mereka telah mampu berdiri sendiri. Atau bisa juga dana tersebut dialihkan menjadi dana beasiswa perguruan tinggi bagi mahasiswa yang tidak mampu dengan syarat beasiswa akan dicabut jika prestasi mereka menurun. Saya yakin tanpa disuruh pun mereka akan memilih partai yang memberi mereka bantuan sebagai bentuk balas budi mereka dan mereka pun tidak menjadi generasi bermental tempe yang maunya praktis dan gratis. Mereka tetap memiliki tanggung jawab dan tetap dapat menjadi manusia-manusia yang kreatif.

Ya…sekarang terserah pada partai politik itu sendiri, mau mengubah cara kampanye mereka atau tidak. Apakah mereka berpikir untuk kebaikan bangsa Indonesia kedepannya atau hanya memikirkan kepentingan partai semata. Kalau mereka tetap berpikir hanya untuk partai dan diri pribadi saja, maka anda bisa lihat hasilnya. Korupsi merajalela di mana-mana, karena semua caleg dan partai ingin mengembalikan modal yang sudah mereka keluarkan secara besar-besaran saat masih kampanye.

NB: Ini hanya opini saya saja, mohon maaf bila ada pihak-pihak yang tidak berkenan.

Pos ini dipublikasikan di Corat-coret Semau Gue dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s