Road to Sumberjambe

Saat ini saya sedang menjalani rotasi klinik saya yang terakhir. Berbeda dengan rotasi klinik di 12 bagian sebelumnya yang saya jalani di rumah sakit, kali ini saya harus rela berada di wilayah yang jauh dari hingar-bingar keramaian kota. Stase ini biasa disebut IKM (Ilmu Kesehatan Masyarakat) atau kalo di kampus saya lebih lumrah disebut dengan PH (Public Health). Di stase ini saya harus mempelajari yang namanya manajemen, terutama manajemen puskesmas.

Wilayah tempat saya belajar manajemen puskesmas sekarang ini merupakan wilayah yang cukup jauh dari pusat kota. Jaraknya sekitar 25-40 km dari pusat kota Jember dan dapat ditempuh dalam waktu minimal 45 menit dengan mengendarai sepeda motor, itupun jika saya menggunakan jalan pintas yang merupakan jalur antardesa antarkecamatan bukan lewat jalan raya antarkota antarpropinsi.

Sebut saja daerah itu dengan Kecamatan Sumberjambe. Letaknya di sebelah utara Kabupaten Jember, berbatasan langsung dengan Kabupaten Bondowoso. Terdiri dari 9 desa yaitu Sumberjambe, Sumberpakem, Rowosari, Cumedak, Gunung Malang, Randuagung, Plerean, Pringgodani, dan Jambearum. Ada yang unik dari wilayah ini. Biasanya puskesmas berada satu desa dengan kantor kecamatan, polsek, dan koramil. Tapi di wilayah ini puskesmas terletak di desa yang berbeda dengan kantor-kantor pemerintahan tersebut. Puskesmas Sumberjambe berada di Desa Cumedak, sedangkan kantor-kantor pemerintahan berada di Desa Sumberjambe.

Hari pertama saya berada di wilayah ini, hal pertama yang dilakukan adalah menghadap Kepala Puskesmas Sumberjambe. Beliau kemudian menjelaskan mengenai apa saja yang harus dilakukan selama berada di Sumberjambe. Selama 2 minggu pertama, tugas kami adalah keliling desa untuk memantau pelaksanaan posyandu. Masing-masing diberi wewenang mengawasi posyandu di satu desa dan melayani pasien di pustu. Alhamdulillah, saya mendapat jatah di Desa Sumberjambe. Meskipun jauh, tapi akses ke desa ini lumayan mudah karena ini merupakan ibukota kecamatan. Yang jadi masalah adalah saya yang tidak bisa naik motor, untunglah ada teman saya yang wilayah kerjanya satu jalur dengan saya jadi saya bisa menumpang…hehehe

Selama hampir 1 minggu berada di desa ini, saya merasakan perbedaan yang mencolok dengan keadaan di rumah sakit dan di kota. Di sini semua orang memanggil saya dengan sebutan “Bu Dokter” termasuk Pak Camat dan Bidan Desa, padahal lulus dokter saja belum. Yang lebih membuat saya terharu lagi, ada pasien yang bersyukur karena diperiksa oleh saya, alasannya karena biasanya kalo dia sakit selalu diperiksa oleh bidan desa bukan dokter. Saat tidak ada pasien, asisten bidan di pustu tempat saya bertugas selalu mengajak saya jalan-jalan, entah itu melihat anak-anak SD latihan drum band atau sekedar makan rujak cingur atau gorengan dan bercengkrama dengan warga sekitar. Tak jarang warga menawari saya untuk mampir ke rumah mereka. Suasananya benar-benar menyenangkan, berbeda dengan di kota dan di rumah sakit.

Sayangnya, suasana yang menyenangkan tersebut tidak didukung dengan fasilitas yang memadai. Hari pertama saya melayani pasien di pustu banyak sekali hal yang tidak bisa saya lakukan untuk mereka. Sebagai contoh, ada pasien dengan konjungtivitis bakterial seharusnya saya memberi antibiotik tetes mata, namun karena tidak ada obat tetes mata terpaksa saya berikan antibiotik salep mata. Ini masih rasional dan masih bisa ditolerir. Banyak hal mengenai fasilitas kesehatan yang membuat saya harus mengelus dada. Pasien dengan serumen obsturan kanan dan kiri, pendengaran berkurang selama 10 hari, harusnya masalah terselesaikan dengan melakukan ekstraksi serumen, atau minimal dengan memberikan tetes telinga gliserin. Tapi apa yang terjadi, saya tidak bisa melakukan apa-apa. Saya hanya bisa menyarankan pasien tersebut periksa ke puskesmas atau ke rumah sakit karena di pustu tidak ada alat ekstraksi serumen. Ada juga pasien post operasi SC 15 hari yang lalu, minta dilakukan angkat jahitan. Saya tanya pada asisten bidan apakah alat-alat standar untuk angkat jahitan tersedia, beliau mengatakan ada. Namun ketika saya akan melakukan angkat jahitan ternyata tidak ada pinset cirrurgis. Jadilah saya melakukan angkat jahitan tanpa pinset cirrurgis😦

Pos ini dipublikasikan di My Co.Ass. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Road to Sumberjambe

  1. Austin Dertamuse berkata:

    Namun saya pikir, baru Amerika saja yang berhasil menjalankan demokrasi yang benar barangkali karena taraf hidup kita dan mereka berbeda jauh ya .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s