Di Mana Empatimu Kawan ???

Hari ini saya benar-benar kesal dengan teman-teman sekelompok saya. Nggak semua sih, hanya beberapa orang saja yang hari ini benar-benar membuat emosi saya meledak-ledak. Semua ini bermula dari adanya libur dadakan (cuti bersama) dan adanya kesepakatan jaga 12 jam pada hari libur yang sudah disetujui oleh Kepala SMF Pediatri. Ternyata, salah seorang konsulen tidak setuju dengan sistem jaga 12 jam pada hari libur. Beliau lebih suka dengan sistem jaga 24 jam pada hari libur karena dianggap lebih efektif. Akibatnya, jadwal jaga jadi morat-marit.

Kemarin, tanggal 2 Juni 2011 bertepatan dengan libur nasional “Kenaikan Yesus Kristus”, saya mendapat jatah jaga. Seharusnya, saya dan 3 orang teman lainnya (No.3, 4, dan 5 pada gambar di atas) jaga selama 24 jam di unit perinatologi dan PICU/NICU, dan berhubung sudah ada kesepakatan jaga 12 jam yang sudah disetujui Kepala SMF maka kami pun membagi tugas. Dua orang teman saya, no.3 dan 4, mendapat jatah jaga pagi mulai jam 6 pagi sampai jam 6 sore. Sedangkan saya dan teman no.6 mendapat jatah jaga malam, mulai jam 6 sore hingga jam 6 pagi hari ini.

Selama satu minggu ini, saya dan teman no.6 bertugas mem-follow up pasien di unit perinatologi. Meskipun libur kami harus datang untuk melakukan SOAP pada pagi hari, padahal malam harinya kami berdua juga harus datang ke unit perinatologi karena dapat jatah jaga malam. Berhubung konsulen yang jaga di unit perinatologi adalah konsulen yang bersikukuh dengan sistem jaga 24 jam, maka saya mem-follow up pasien lebih pagi, karena saya takut ketahuan bahwa hari itu saya sebenarnya jaga 24 jam.  Tapi partner jaga saya, mem-follow up pasien lebih siang daripada saya, dan inilah awal petakanya.

Konsulen yang saya sebut tadi ternyata datang ke unit perinatologi karena ada rencana operasi caesar pagi itu dan partner jaga saya belum selesai mem-follow up pasiennya. Dia terjebak di unit perinatologi, dan dipanggil oleh konsulen tersebut. Dia tidak bisa mengelak ketika ditanya jaga 24 jam atau tidak dan karena itulah dia menjadi TO (target operasi) sang konsulen saat itu. Beliau tetap bersikeras dengan sistem jaga 24 jam, meskipun sistem jaga 12 jam telah disetujui kepala SMF, sehingga keesokan harinya (hari ini) yang berlaku adalah sistem jaga 24 jam. Selain dia, teman yang dapat jatah jaga pagi juga jadi TO sang konsulen. Jadilah mereka berdua dituntut untuk melaporkan rencana operasi caesar tiap 30 menit kepada beliau dan melakukan konsultasi jika ada pasien yang perlu dikonsulkan.

Meskipun mereka berdua yang menjadi TO, tapi saya dan teman saya yang lain juga menjadi korbannya. Kami berdua seperti sedang jadi buronan saat itu, alhasil kami berdua ‘disembunyikan’ sementara di PICU/NICU saat konsulen tersebut datang, karena jika tidak begitu kami berdua juga akan kena marah dan akibatnya satu kelompok juga bisa kena masalah. Rencana kami tersebut berjalan mulus semalaman, tapi masalah yang sesungguhnya muncul keesokan harinya (pagi ini) karena konsulen tersebut mengirim sms ke partner jaga saya yang intinya beliau mau visite pagi hari ini. Itu artinya pangganti jaga kami berdua harus datang lebih pagi  dan mutlak jaga dengan sistem 24 jam, karena beliau tidak mau kami melakukan operan jaga. Di sinilah letak permasalahannya.

Cuti bersama membuat jadwal jaga kami lebih berantakan lagi. Sebelumnya, telah ada kesepakatan kelompok bahwa hari libur cuti bersama yang mendadak dianggap sebagai hari biasa (bukan hari libur) sehingga yang bertugas pagi di unit perinatologi harus tetap stand by di tempat sampai pukul 14.00 dan itu artinya saya tidak boleh pulang setelah operan jaga saya datang. Tapi jika saya kedapatan sedang berada di unit perinatologi pagi itu dengan kostum jaga saya, maka sudah pasti konsulen tersebut menganggap sayalah yang jaga di unit perinatologi hari ini. Dan artinya saya tidak akan bisa pulang sampai besok pagi padahal besok pagi saya harus tetap bertugas di unit perinatologi sampai pukul 14.00 dan saya dapat jatah jaga malam lagi di bangsal anak-anak sampai minggu pagi. Dan jika hal ini benar-benar terjadi, total saya harus jaga selama 60 jam di RS. Saya berpikir bahwa harus ada yang membantu kami jaga di unit perinatologi dan PICU/NICU hari ini selain yang bertugas jaga hari ini (teman no 2 dan 9), karena tidak mungkin melimpahkan tugas jaga 24 jam kepada 2 orang saja.

Saya menghubungi beberapa teman untuk membantu keadaan ini. Saya hubungi teman no.11, tapi dia mengatakan bahwa dia sakit padahal saya tau dia tidak sakit dan sedang jaga di bangsal anak-anak, itupun hanya 2 jam. Memang dia dapat jatah jaga 24 jam hari Minggu ini, tapi masih ada hari Sabtu untuk memulihkan tenaga kalau dia membantu kami minimal untuk jaga PICU/NICU hari ini (hanya beberapa jam saja, tidak 24 jam). Dia tetap tidak mau dan saya tidak bisa memaksa. Saya hubungi teman no.12, tapi dia mengatakan bahwa dia mau membantu tapi harus ada yang menggantikan dia jaga 24 jam di hari lain. Saya coba jelaskan padanya bahwa ini bukan masalah tukar-menukar jaga dan ini merupakan permohonan pribadi saya agar dia bersedia membantu hari ini, minimal untuk jaga PICU/NICU selama beberapa jam saja (tidak 24 jam). Tapi dia juga tidak mau dengan alasan jatah jaga 24 jamnya bertambah banyak dan dia capek karena baru pulang dari acara keluarga di Banyuwangi.

Saya nyaris putus asa, dan memutuskan untuk tetap jaga selama 60 jam, tapi kemudian teman no.2 dan 9 yang memang bertugas jaga hari ini dengan sukarela mengatakan mau jaga selama 24 jam di unit perinatologi meskipun cuma berdua dan hanya dibantu 2 orang junior kami, sedangkan teman no.8 yang juga ketua kelompok kami bersedia membantu untuk jaga di PICU/NICU sampai besok pagi. Sedangkan pada pagi hari, PICU/NICU dijaga oleh teman yang minggu ini bertugas mem-follow up pasien di sana sesuai dengan kesepakatan kelompok bahwa pada hari libur dadakan dianggap seperti hari kerja, sehingga yang bertugas mem-follow up pasien selama seminggu tetap stanby di ruangan masing-masing hingga pukul 14.00 WIB.

Hal-hal seperti inilah yang sering terjadi dalam kehidupan seorang ko.ass. Saya sangat berterima kasih kepada teman no.2, 8, dan 9 yang bersedia membantu saya saat ini. Saya janji, jika kalian butuh bantuan saya (ingin tukar jaga atau apapun) saya pasti akan bantu sebisa mungkin. Dan untuk teman no.11 dan 12, saya sangat prihatin terhadap kalian berdua. Semoga kalian segera sadar bahwa empati terhadap teman itu sangat penting. Kekompakan bisa dibangun dengan adanya empati antarpersonil dalam kelompok. Bagaimana kita bisa berempati pada pasien jika berempati pada kawan sendiri saja tidak bisa?

Pos ini dipublikasikan di Corat-coret Semau Gue. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s