Pilihan Masa Depan

Belum ada satu menit saya tiba di kamar kos saya di daerah Patrang, Jember. Tiba-tiba saja saya terpikir untuk menulis tentang masa depan. Memang tidak akan ada habisnya jika kita berbicara tentang masa depan. Future is not only about occupation but also about life. Kira-kira seperti itulah konsep masa depan yang ada dalam pikiran saya. 

Dulu, ketika saya masih duduk di bangku taman kanak-kanak, cita-cita saya adalah menjadi seorang dokter. Klasik memang, tapi justru cita-cita itulah yang saya pertahankan hingga saat ini. Kesetiaan saya terhadap cita-cita saya tersebut sudah terbaca oleh ibu saya. Ibu memang selalu tahu segala sesuatu tentang anaknya, ia hanya mencoba membaca sifat yang saya bawa sejak lahir. Kata Ibu, saya orangnya tidak mudah berganti pilihan, apapun itu termasuk juga barang. Love you, Mom…

Beranjak memasuki usia sekolah dasar, cita-cita itu pun tidak juga berubah. Kalo pun ada perubahan tetep ada embel-embel dokternya. Hahaha…namanya juga anak-anak. Kalo tidak salah, waktu saya kelas 5 SD, ada seorang guru yang bertanya mengenai cita-cita. Hampir separuh kelas menjawab ingin menjadi dokter dan kalo boleh saya analisis lagi, dari sekian banyak yang mengaku ingin menjadi dokter, hanya 2 orang yang tetap bertahan ingin menjadi dokter hingga saat ini. Tapi kemudian beberapa orang teman SD saya yang pada awalnya tidak ingin jadi dokter, akhirnya kuliah di kedokteran juga. Ah dasar nasib…

Tahapan selanjutnya, adalah usia sekolah menengah pertama. Di sini, pemikiran saya sudah mulai terpengaruh oleh teman-teman dan lingkungan. Di sini juga lah saya mulai mengenal yang namanya cita-cita jangka panjang dan jangka pendek. Menjadi dokter adalah cita-cita jangka panjang saya saat itu dan cita-cita jangka pendeknya adalah saya ingin melanjutkan sekolah ke SMAN 3 Malang (salah satu SMA terfavorit di Kota Malang). Bagi saya, masa-masa SMP adalah masa tersuram, terutama kelas III. Bagaimana tidak ??? Saya yang ketika SD tidak pernah lepas dari rangking 4 besar di kelas, mengalami penurunan luar biasa dalam prestasi akademik. Saya pun harus rela dapat nilai 6 pada mata pelajaran matematika  di buku rapor saya. Saya benar-benar depresi dan minder dengan teman-teman sekelas saya yang notabene siswa-siswa unggulan. Dan pada akhirnya saya harus rela cita-cita jangka pendek saya tidak tercapai, karena kemunduran prestasi tersebut. How poor I am…

Tidak diterima di SMAN 3 Malang, membuat saya terlempar ke SMAN 1 Malang (Salah satu SMA terbaik juga di Kota Malang). Meskipun pada awalnya saya merasa nggak sreg sekolah di sana, tapi ujung-ujungnya saya malah merasa sangat bangga punya almamater sehebat SMAN 1 Malang. Di sini, saya mulai menata kembali cita-cita jangka panjang dan jangka pendek saya. Terbersit keinginan saya untuk menjadi lulusan terbaik se-Kota Malang dengan cita-cita jangka panjangnya tetap menjadi seorang dokter. Kali ini saya sudah mulai menentukan pilihan bidang spesialistik yang ingin saya tekuni setelah saya menjadi dokter dan pilihan saya jatuh pada spesialis anak (pediatrician), padahal diterima di fakultas kedokteran saja belum tentu. Kerja keras dan doa pun menjadi makanan sehari-hari. Dan hasilnya, alhamdulillah saya berhasil jadi lulusan terbaik se-Kota Malang. Saya pun diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Jember.

Saya jadi teringat ayah saya (almarhum) pernah mengatakan sesuatu saat saya kelas  I SMA. Waktu itu kami baru saja keluar dari ruang pemeriksaan dokter bedah untuk memeriksakan benjolan di siku sebelah kanan saya. Sambil menunggu ibu dan adik saya yang sedang memeriksakan matanya ke dokter mata, ayah mengatakan, “Kamu kalo lulus SMA masuk kedokteran aja, lihat sendiri kan tadi gimana enaknya jadi dokter ? Cuma lihat benjolannya aja, dibayar Rp 50.000”.  Pernyataan itu lah yang sampai saat ini teringiang-ngiang di benak saya. Saya anggap itu adalah permintaan terakhir ayah saya terhadap saya sebelum dia meninggal dunia. Finally Dad, I can do that…

Ketika masih SMP dan SMA, tidak pernah terbersit dalam pikiran saya untuk menikah muda. Saya selalu berpikir bahwa saya harus membangun karir saya terlebih dahulu sebagai dokter minimal selama 1 atau 2 tahun bahkan kalo perlu saya sekolah spesialis dulu baru setelah itu menikah. Tapi setelah menjalani kuliah di fakultas kedokteran, perlahan-lahan pemikiran itu luntur dari otak saya. Lamanya kuliah di kedokteran membuat saya berpikir untuk segera menikah setelah saya mendapatkan gelar dokter. Masalah sekolah spesialis itu urusan belakangan, asalkan suami mengijinkan dan ada beasiswa pasti jalannya akan mulus-mulus saja.

Selain itu, saya mengubur dalam-dalam keinginan saya menjadi seorang pediatrician. Kenapa ??? Karena ternyata Ilmu Kesehatan Anak itu sangatlah luas. Saya mulai tertarik dengan ilmu-ilmu khusus yang membutuhkan skill tingkat tinggi seperti Ilmu Bedah, Anestesi, bahkan Emergency Medicine. Tapi saya kembali bimbang. Ada beberapa pertanyaan yang muncul dalam benak saya dan sedikit mengganggu, apakah saya mampu menjalankan kodrat saya sebagai wanita jika saya mendalami ilmu-ilmu dengan kebutuhan skill tingkat tinggi itu ??? Bagaimana kalau saya menikah kemudian saya mengandung ??? Apakah boleh melakukan tindakan operasi/anestesi dalam keadaan hamil ??? Padahal saat ini saja, rekan sejawat saya yang sedang hamil tidak boleh mengikuti kegiatan kepaniteraan klinik (ko.ass) di stase mayor yang mengharuskan jaga malam.

Saya pun mulai terpikir untuk mendalami ilmu-ilmu yang lebih ringan seperti Kulit Kelamin dan Kedokteran Estetika. Sepertinya itu sangat menarik, saya pun tidak harus bersusah-susah jaga malam karena pasiennya tidak ada yang gawat, kecuali kalo kena Steven-Johnson Syndrome. Obat-obat yang dipakai juga tidak seluas di bidang-bidang lain. Tidak perlu membawa stetoskop ke mana-mana, cukup bermodalkan mulut, mata, dan tangan untuk menegakkan diagnosis.

Lain saya, lain pula ibu saya. Dia sangat mengingikan anaknya menjadi dokter pendidik dan peneliti (dosen maksudnya…), mungkin karena dia seorang dosen. Bahkan dia sampai mencarikan beasiswa S2 (bukan spesialis) ke luar negeri untuk saya. Tapi sumpah, saya kurang tertarik kalo harus menjadi dosen dan peneliti seutuhnya. Alasannya simpel, buat apa saya kuliah susah payah di kedokteran tapi ujung-ujungnya tidak praktek, hanya melakukan riset dan mengajar saja. Malah saya berpikir kuliah saya akan mubazir dari segi waktu dan tenaga yang saya gunakan untuk jaga selama saya ko.ass. Kalo cuma jadi dosen dan peneliti saja sebenarnya gelar S.Ked saja sudah cukup, tidak perlu jadi ko.ass.  Yang saya inginkan adalah saya tetap bisa melayani masyarakat dan berbagi ilmu dengan junior-junior saya nanti seperti halnya senior-senior saya di rumah sakit tempat saya belajar saat ini. Semoga saja saya bisa meraih keinginan tersebut…Amin

Pos ini dipublikasikan di Corat-coret Semau Gue. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Pilihan Masa Depan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s