Muhammad SAW yang Kukenal

Sebagai bagian dari umat Islam, tentu saya mengenal Muhammad SAW. Seorang nabi dan rasul akhir zaman yang diutus oleh Allah SWT untuk membimbing umatnya ke jalan yang benar. Di sini saya tidak akan bercerita banyak mengenai kelahirannya, meskipun hari ini adalah perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, karena semua pasti sudah mengetahuinya. Yang ingin saya ungkapkan dari postingan ini, adalah sifat-sifat Muhammad SAW yang sepatutnya diteladani oleh muslimin dan muslimat di seluruh dunia, karena sesungguhnya makna utama dari perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah meneladani sifat atau akhlaqnya.

Muhammad SAW yang saya kenal, sejak kecil sudah memiliki sifat-sifat yang amat mulia dan karena itulah beliau dijuluki Al-Amin. Rasanya tidak akan ada cukup tempat bila seluruh kebaikan Muhammad SAW saya bahas di sini. Bahkan para istri dan para sahabat rasul pun tidak sanggup menceritakannya kepada orang lain. Kalau boleh saya berpendapat akhlaq Muhammad SAW adalah Al-Quran, atau bolehlah saya sebut sebagai Al-Quran berjalan.

Muhammad SAW yang saya kenal, adalah seorang pria yang sangat menyayangi dan menghormati istrinya. Salah satu istri Rasul, Aisyah, bercerita suatu ketika ia dan suaminya sudah berada di tempat tidur dan sudah masuk ke dalam selimut, kulit mereka pun sudah bersentuhan. Lalu Muhammad SAW berkata “Ya Aisyah, izinkan aku untuk menghadap Tuhanku terlebih dahulu“. Apalagi yang dapat lebih membahagiakan seorang isteri, karena dalam sejumput episode tersebut terkumpul kasih sayang, kebersamaan, perhatian dan rasa hormat dari seorang suami, yang juga seorang utusan Allah. Muhammad SAW juga pernah membuat khawatir hati Aisyah. Ketika menjelang subuh Aisyah tidak mendapati suaminya disampingnya. Aisyah keluar membuka pintu rumah. Betapa terkejutnya ia melihat suaminya tidur di depan pintu. Aisyah berkata, “Mengapa engkau tidur di sini?”. Muhammmad SAW pun menjawab,  “Aku pulang sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak mengetuk pintu. Itulah sebabnya aku tidur di depan pintu“. Bagi para pria muslim di seluruh dunia, mari berkaca pada diri kalian masing-masing. Bagaimana perilaku kalian terhadap istri kalian?

Muhammad SAW yang saya kenal, juga merupakan seorang pemimpin yang baik terhadap anak buahnya. Suatu ketika seorang sahabat datang terlambat ke sebuah majelis yang dipimpin oleh Rasul. Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. Di tengah kebingungannya, Rasul memanggilnya. Rasul memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup dengan itu, Rasul pun melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi mencium sorbannya. Betapa senangnya kita, jika orang yang kita hormati, pemimpin yang kita junjung tiba-tiba melayani kita bahkan memberikan sorbannya untuk tempat alas duduk kita. Begitulah akhlak Muhammad SAW, sebagai pemimpin beliau selalu ingin menyenangkan dan melayani bawahannya. Dan lihatlah diri kita, kita adalah pemimpin, bahkan untuk lingkup paling kecil sekalipun, sudahkah kita meniru akhlak Rasul yang mulia?

Muhammad SAW yang saya kenal, juga terkenal suka memuji sahabatnya. Kalau kita baca kitab-kitab hadis, kita akan kebingungan menentukan siapa sahabat yang paling utama. Terhadap Abu Bakar Ash-Siddiq, Rasul selalu memujinya. Abu Bakar-lah yang menemani Rasul ketika hijrah. Abu Bakar-lah yang diminta menjadi Imam ketika Rasul sakit. Tentang Umar bin Khattab, Rasul pernah berkata, syetan saja takut dengan Umar, bila Umar lewat jalan yang satu, maka syetan akan lewat jalan yang lain. Mengenai Utsman, bin Affan, Rasul sangat menghargai Ustman karena itu Utsman menikahi dua putri nabi, hingga Utsman dijuluki Dzu an-Nurain (pemilik dua cahaya). Mengenai Ali bin Abu Thalib, Rasul bukan saja menjadikannya ia menantu, tetapi banyak sekali riwayat yang menyebutkan keutamaan Ali. Rasul pernah berkata, “Aku ini kota ilmu, dan Ali adalah pintunya. Barang siapa membenci Ali, maka ia merupakan orang munafik“. Lihatlah diri kita sekarang. Bukankah jika ada seorang teman yang punya sembilan kelebihan dan satu kekurangan, maka kita jauh lebih tertarik berjam-jam untuk membicarakan yang satu itu dan melupakan yang sembilan. Ah…ternyata kita belum suka memuji, kita masih saja suka mencela. Ternyata kita belum mengikuti sunnah Nabi.

Muhammad SAW yang saya kenal, adalah seorang yang sangat menghormati pendapat orang lain. Dalam satu kesempatan lain, ketika di Mekkah, Muhammad SAW didatangi utusan pembesar Quraisy, Utbah bin Rabi’ah. Ia berkata pada Rasul, “Wahai kemenakanku, kau datang membawa agama baru, apa yang sebetulnya kau kehendaki? Jika kau kehendaki harta, akan kami kumpulkan kekayaan kami. Jika Kau inginkan kemuliaan akan kami muliakan engkau. Jika ada sesuatu penyakit yang dideritamu, akan kami carikan obat. Jika kau inginkan kekuasaan, biar kami jadikan engkau penguasa kami“. Nabi mendengar dengan sabar uraian tokoh musyrik ini. Tidak sekalipun beliau membantah atau memotong pembicaraannya. Ketika Utbah berhenti, Rasul  bertanya, “Sudah selesaikah, Ya Abal Walid?“, Utbah pun menjawab,”Sudah“. Rasul pun membalas ucapan Utbah dengan membaca Surat Fushilat. Ketika sampai pada ayat sajdah, Nabi bersujud. Sementara itu Utbah duduk mendengarkan Nabi sampai menyelesaikan bacaannya. Peristiwa ini sudah lewat ratusan tahun lalu. Kita tidak heran bagaimana Rasul dengan sabar mendengarkan pendapat dan usul Utbah, tokoh musyrik. Kita mengenal akhlak beliau dalam menghormati pendapat orang lain. Inilah akhlak Rasul dalam majelis ilmu. Yang menakjubkan adalah perilaku kita sekarang, bahkan oleh si Utbah yang musyrik pun kita kalah. Utbah mau mendengarkan Muhammad SAW dan menyuruh kaumnya membiarkan beliau berbicara. Jangankan mendengarkan pendapat orang kafir, kita bahkan tidak mau mendengarkan pendapat saudara kita sesama muslim. Dalam pengajian, suara pembicara kadang-kadang tertutup suara obrolan kita. Masya Allah!

Muhammad SAW yang saya kenal, adalah seorang yang selalu menepati janjinya. Ketika beliau tiba di Madinah dalam episode hijrah, ada utusan kafir Mekkah yang meminta janji kepadanya, bahwa Rasul akan mengembalikan siapapun yang pergi ke Madinah setelah perginya beliau. Selang beberapa waktu kemudian. Seorang sahabat rupanya tertinggal di belakang. Sahabat ini meninggalkan isterinya, anaknya dan hartanya. Dengan terengah-engah menembus padang pasir, akhirnya ia sampai di Madinah. Dengan perasaan haru ia segera menemui Rasul dan melaporkan kedatangannya. Apa jawab Rasul? “Kembalilah engkau ke Mekkah. Sungguh aku telah terikat perjanjian. Semoga Allah melindungimu“. Sahabat ini menangis keras. Bagi Rasul janji adalah sesuatu yang sangat agung. Meskipun Rasul merasakan bagaimana besarnya pengorbanan sahabat ini untuk berhijrah, bagi Rasul janji adalah janji. Bahkan meskipun janji itu diucapkan kepada orang kafir. Bagaimana cara kita memandang suatu janji, merupakan salah satu bentuk jawaban bagaimana perilaku Rasulullah telah menyatu dalam sanubari kita atau tidak.

Muhammad SAW yang saya kenal, tidak suka menyakiti orang lain. Dalam suatu kesempatan menjelang akhir hayatnya, Rasul berkata pada para sahabat, “Mungkin sebentar lagi Allah akan memanggilku, aku tak ingin di padang mahsyar nanti ada di antara kalian yang ingin menuntut balas karena perbuatanku pada kalian. Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku pada kalian, ucapkanlah!“. Sahabat yang lain terdiam, namun ada seorang sahabat yang tiba-tiba bangkit dan berkata, “Dahulu ketika engkau memeriksa barisan di saat akan pergi perang, kau meluruskan posisiku dengan tongkatmu. Aku tak tahu apakah engkau sengaja atau tidak, tapi aku ingin menuntut balas hari ini“. Para sahabat lain terpana, tidak menyangka ada yang berani berkata seperti itu. Kabarnya Umar langsung berdiri dan siap membereskan orang itu. Nabi melarangnya. Rasul pun menyuruh Bilal mengambil tongkat ke rumah beliau. Siti Aisyah yang berada di rumah merasa sangat heran ketika Rasul meminta tongkat. Setelah Bilal menjelaskan peristiwa yang terjadi, Aisyah pun semakin heran, mengapa ada sahabat yang berani berbuat senekad itu setelah semua yang Rasul berikan pada mereka. Rasul memberikan tongkat tersebut pada sahabat itu seraya menyingkapkan bajunya, sehingga terlihatlah perut Rasul. Lalu beliau berkata, “Lakukanlah!“. Detik-detik berikutnya menjadi sangat menegangkan. Tetapi terjadi suatu keanehan. Sahabat tersebut malah menciumi perut Rasul dan memeluk Rasul seraya menangis, “Sungguh maksud tujuanku hanyalah untuk memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan tubuhmu. Aku ikhlas atas semua perilakumu wahai Rasulullah“. Seketika itu juga terdengar ucapan, Allahu Akbar berkali-kali. Sahabat tersebut tahu, bahwa permintaan tersebut tidak mungkin diucapkan kalau Rasul tidak merasa bahwa ajalnya semakin dekat. Sahabat itu tahu bahwa saat perpisahan semakin dekat, ia ingin memeluk Rasul sebelum Allah memanggil Rasul. Suatu pelajaran lagi buat kita. Menyakiti orang lain baik hati maupun badannya merupakan perbuatan yang amat tercela. Allah tidak akan memaafkan sebelum yang kita sakiti memaafkan kita. Rasul pun sangat hati-hati karena khawatir ada orang yang beliau sakiti. Khawatirkah kita bila ada orang yang kita sakiti menuntut balas nanti di padang Mahsyar di depan Hakim Yang Maha Agung ditengah miliaran umat manusia?

Ketika menjalani Haji Wada’, di Padang Arafah yang terik, dalam keadaan sakit, Nabi Muhammad SAW masih menyempatkan diri berpidato. Di akhir pidatonya itu Nabi dengan dibalut sorban dan tubuh yang menggigil berkata, “Nanti di hari pembalasan, kalian akan ditanya oleh Allah apa yang telah aku, sebagai Nabi, perbuat pada kalian. Jika kalian ditanya nanti, apa jawaban kalian?“. Para sahabat terdiam dan mulai banyak yang meneteskan air mata. Nabi melanjutkan, “Bukankah telah kujalani hari-hari bersama kalian dengan lapar, bukankah telah kutaruh beberapa batu diperutku karena menahan lapar bersama kalian, bukankah aku telah bersabar menghadapi kejahilan kalian, bukankah telah ku sampaikan pada kalian wahyu dari Allah?” Untuk semua pertanyaan itu, para sahabat menjawab, “Benar ya Rasul!“. Rasul pun mendongakkan kepalanya ke atas, dan berkata, “Ya Allah saksikanlah…Ya Allah saksikanlah…Ya Allah saksikanlah!” . Nabi meminta kesaksian Allah bahwa Nabi telah menjalankan tugasnya.

Dengan postingan ini saya pun ingin Allah SWT menyaksikan bahwa saya dan kalian yang membaca postingan ini adalah hamba Allah yang sangat mencintai Rasul-Nya. Sebagai wujud kecintaan kita terhadap Allah dan rasul-Nya, marilah kita bersama-sama memperbaiki akhlaq kita dengan menjalankan ajaran Al-Quran dan Sunnah Rasul.

Pos ini dipublikasikan di Info, Islam dan tag , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Muhammad SAW yang Kukenal

  1. Ramelan BE berkata:

    Oke, marilah kita sama-sama berdakwah agar temen kita uang muslim itu tahu Al Qur’an dan Hadits.

    Wassalam.

  2. AZISHTM berkata:

    SALAM UKHUWAH dari http://azishtm.blogspot.com
    Maen facebook sekaligus BERBISNIS DAN BERSEDEKAH
    Dpt Income juga Pahala.
    SILAHKAN KLIK ==>
    http://www.income-syariah.com/?id=inves4215

    …Setiap kunjungan, Insya Allah akan mendapatkan GRATIS 10 Software Islami dan Tausiah Ust. Arifin Ilham, Yusuf Mansur dan Qori’ Kecil Muhammad Toha.

    SEMOGA BERMANFAAT

  3. Sharef berkata:

    Jadikan momentum MAULID untuk lebih mengenal Rasulallah SAW..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s