Suami, Yakin Perlu “Madu”?

Tulisan ini pernah dimuat di koran harian Jawa Pos dalam rubrik For Her di kolom Her View (halaman 23) pada tanggal 7 Februari 2011. Ditulis oleh seorang mahasiswi tingkat profesi (co.ass/dokter muda) yang tidak lain adalah teman seangkatan saya di Fakultas Kedokteran Universitas Jember. Hmmm…mungkin di antara Anda yang membaca postingan ini ada yang mengira bahwa teman saya ini sudah menikah. Jika Anda berpikiran seperti itu, Anda salah besar. Teman saya ini belum menikah (sama halnya dengan saya), bahkan usianya pun lebih muda daripada saya (cuma beberapa bulan aja sih :mrgreen:). Usia memang bukan menjadi patokan utama untuk menentukan tingkat kedewasaan seseorang, pengalaman dan tentu saja faktor lingkungan juga memiliki andil dalam mendewasakan seseorang. Nah, kalo gitu mari kita simak baik-baik karya tulis teman sejawat saya ini. Let’s Check It Out !!!

SUAMI YAKIN BUTUH “MADU” ???

Pernikahan merupakan hal yang sakral. Ikatan ini menyatukan dua insan dengan bermacam perbedaan. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa pria memiliki 4 hal paling dominan yang ada dalam pikiran mereka: 1) Seks, 2) Harta, 3) Anak, dan 4) Cinta. Wanita memikirkan hal yang sama, namun dengan prioritas yang berkebalikan dengan pria: 1) Cinta, 2) Anak, 3) Harta, dan 4) Seks. Bagi pria, seringkali kebutuhan dasar yang paling wajib dipenuhi dari sang istri adalah kebutuhannya di ranjang. Sedikit berbeda dengan hal tersebut, wanita lebih memprioritaskan cinta dan kasih sayang melebihi “sekadar” urusan ranjang untuk membuat rumah tangganya tentram. Karena prioritas tentang hubungan seksual itulah umunya pria memiliki naluri untuk selingkuh atau punya “madu”, guna memuaskan yang tidak mereka temui pada istrinya.

Tidak ada yang lebih patut disalahkan ketika seorang suami ingin menikah lagi. Bisa jadi meskipun sang  istri yang dia miliki cantik, pintar, taat, kaya, dari keluarga terpandang, sopan, ramah, koki yang hebat, piawai mendidik anak, dan sederet kelebihan lainnya, suami tetap ingin mencari “variasi” lain. Terkadang dalam perjalanan rumah tangganya, suami tidak mendapatkan haknya karena sang istri tidak menuruti apa yang diinginkannya. Namun jika “mindset utama” pria telah terpenuhi dari istrinya, apakah perlu ia menikah lagi? Bisakah suami membagi adil yang ada pada dirinya bagi lebih dari satu istrinya?

Suami yang memiliki keinginan memadu istrinya sebaiknya melihat anak dan istrinya di kala tidur untuk memandang wajah mereka yang teduh dan terlelap. Cobalah merenung dan mengingat kembali tentang kebaikan-kebaikan yang ada pada anak dan istrinya. Istrinya telah menolak pinangan sejumlah pria agar sang suami menjadi the special one dalam hidupnya. Istrinya telah mencurahkan seluruh tenaga untuk memenuhi kebutuhannya sejak bangun tidur hingga kembali tidur. Istrinya rela menahan sakit dalam kehamilan dan persalinan anak-anak mereka. Istrinya lelah menyusui buah hati mereka di tengah malam. Istrinya menjadi konselor bisnis pribadinya dengan atau tanpa  ia minta. Istrinya menjadi dokter pribadinya saat kesehatannya terganggu. Istrinya menjadi tempatnya mengeluh saat ia merasa sangat lelah secara fisik dan mental. Istrinya bersedia melayani hasrat seksualnya meski mungkin tubuhnya lelah setelah bekerja seharian.

Semua pengorbanan istri tentu tak pantas ditukar dengan ketamakkan yang tak pernah terpuaskan. Bukankah salah satu ciri mental yang sehat adalah rasa puas dan syukur terhadap apa yang sudah dimiliki? Tentu rasa syukur yang besarlah yang akan mampu meredam ambisi itu. Tak ada masalah rumah tangga yang tak dapat diselesaikan jika komunikasi suami istri berjalan baik. Akan lebih baik jika suami yang ingin menikah memikirkan kemungkinan hancurnya perasaan sang istri karena tak ada yang lebih utama diinginkan seorang wanita dibanding cinta yang utuh dari suaminya. Cinta dari suaminya yang hanya untuk dirinya.

Poligami atau “madu sebagai obat” memang halal dan dipersilakan bila tepat indikasinya. Namun, bila madu itu tak murni dan yang meminumnya merupakan penderita kencing manis misalnya, bukankah madu yang diharapkan menjadi obat malah menjadi racun?

Untuk suami yang ingin menikah lagi, pikirkan kembali apakah “madu” itu kebutuhan ataukah hanya keinginan dari nafsu yang tak terpuaskan. Renungkan wahai suami!

By: Fauqa Arinil Aulia, S.Ked

Bagi temen-temen yang sudah membaca, harap meninggalkan komentar. Saran dan kritik akan saya sampaikan kepada teman saya tersebut, Terima Kasih !!!

Pos ini dipublikasikan di Corat-coret Semau Gue. Tandai permalink.

4 Balasan ke Suami, Yakin Perlu “Madu”?

  1. zen berkata:

    huhh memang rumittt… Pd kenyataanya seringkali kehidupan yg qt harapkan tak sesuaii bhkan bertolak belakang dgn keinginan hati sesungguhnyaa. Sypun mengalaminyaa, mgkin orang bs mmbenarkan pun bs dsalahkan krna sngt pnjanglah crtanyaa…. Singkat cerita sy menikah & mnjdi istri ke2… Bnyk konflik stlh pernikahan ituu, bs dibilang semua terpaksa krna kehendak orgtua yg tlh mengenalnya sbg calon suami yg terbaik krna mgkin walau dy beristri dy sdng dlm proses gugatan cerai sm istrinya “dulu”. Walaupun jujur sy jg syg wktu itu mau sih hidup sm dy tp ragu krna statusnya. Tak terasa bnyk tragedi kisah suka duka hidup sy dgnnya berlangsung hingga 5thn ini,,,,,, tp siapa duga skrg suamiku berhubngan dgn wanita yg berusia 19thn. Sy memang tdk lbh cantik dr istri pertama bhkan sm wanita muda ini yg jd simpanannya.
    Suamiku akhirnya jujur & niat ingin mmpersuntingnya mnjdi istri ke3nyaa.
    Ya allah… Apa ini hukuman untukuuu? Sy merasa beku & tak berdaya ketika itu, bnyk yg menasehati suamiku untuk tdk menambah lg yg akhirnya mmpersulit kehidupannya krna apapun alasannya wanita itu hanya melihat dr segi materinya sajaa. Sedangkan akuu walau aku wanita ke2dlm pernikahannya akuu mmang bnr bnr begitu menyayangi diaa, aku terlanjur mnjdi istrinyaa bgmnapun dia tlah mnjdi suamiku yg hrs aku mulyakan & ku rawat hngga usiaa yg mnghentikannya. Aku tauu kondisinya sejak lama qt mulai saling mngenal lbh jauuh. Hubungan dgn istrinya mmng sdh tak harmoniss walaupun istrinya semua mgkin melihatnya akan terkagum & terpesona krna kecantikan dgn tubuh proporsional sexy… Tp knp? Trnyta dia sngt angkuh & tak bs mnghargai yg mnjdi suaminya itu. Yaaachhh itu masa laluuu tp aku bingung skrg aku tdk ingin kehilangan suamikuuuu…. Krna aku yakin hnya aku satu”nya wanita yg menyayanginyaa. Aku ingin sekali merawat ke3anaknya dr istri prtma… Dtmbah satu anak dr aku istri ke2nyaa. Tp knpaaa dia ingin menikah lg? Akuu mnjdi kakuu.. Binguung setengah matiii. Rasa ingin mmbalasnyaa tp kasihkuu begitu dlm hngga tak bisa mgkin kuperbuat dgn mengkhianatinyaa.
    Ya allah ampunilah dosakuu dimasa laluuu… Jgn biarkan lagiii hati suamiku terbuka untuk wanita lainnn. Jika bisa memilih kembalikanlah istri prtamanya…untuk tetap merawat & berkumpul bersama anaknyaa. Walau aku jd yg ke2, aku lbh menerima kodratnyaaa.. Hnya ingin mnjadii maduu/obat bagi kesakitannya. Tidak mnambah dan mmberiku racuuun dan masuk kedlm kehidupan keluarga suamikuuu..,karna aku tauuu wanita itu hnya mengejar nafsu dan hartamu.
    ingin sekali aku ungkapkan pd suamiku tp rasanya tak bisaa?,,, haruskah aku menerima semua ini atau mnghindarinyaaa?!!!!!!

    • Waaah, benar2 tersentuh hati saya membaca comment ini. Saya jadi speechless. Saya ingin memuji Anda sebagai orang yang tulus menerima takdir dimadu oleh suami, tapi jujur saya adalah salah satu orang yang memandang sebelah mata pernikahan poligami.

  2. fajarembun berkata:

    mungkin perihal “madu” itu harus dibicarakan lebih dalam lagi..memang,di dalam ajaran islam juga ada perintahnya.. akan tetapi di dalam rumah tangga tidak hanya mengurusi hal 4 tersebut… perjalanan cinta dalam sebuah rumah tangga penuh suka dan cita..🙂 banyak sekali kisah-kisah cinta juga dalam perjalan di rumah tangga yang setia dalam berpasangan sehidup semati menerima keadaan apa adanya.

    sebagai contoh kecil,istri mas Pepeng teh Tami yang setia menemani belahan hidupnya..🙂

    • Setuju mas…
      Masalah pernikahan dan poligami emang gak ada habis2nya untuk dibahas…
      Teman saya ini hanya mencoba menyampaikan apa yang pernah disampaikan oleh salah seorang dokter senior di tempat kami praktek, dan mencoba menghubungkannya dengan kenyataan. Bahkan dia sempat dihujat oleh beberapa teman pria yang pro dengan poligami.

      Namanya juga pendapat, setiap orang kan punya pandangan yang berbeda-beda. Saya sendiri percaya, masih banyak pria di dunia ini yang begitu setia kepada istrinya seorang, dan juga sayang dengan anak2nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s