Cerita Obsgyn

Sudah hampir 3 minggu saya belajar di stase obstetri dan ginekologi (Obsgyn). Awalnya, saya merasa takut sama halnya ketika pertama kali saya akan masuk di stase bedah, tapi pada akhirnya saya pun bisa menikmatinya. Saya merasakan aura yang berbeda antara stase obsgyn dan bedah. Keduanya merupakan stase mayor, tapi suasana kerja dan suasana belajar amat jauh berbeda. Jujur, saya lebih menikmati berada di stase bedah, meskipun saya harus merasakan capek fisik yang luar biasa saat berada di stase ini. Yang saya sukai dari stase ini adalah dokter-dokternya yang sangat open minded. Mereka selalu melindungi dokter muda di depan perawat dan paramedis lain yang seringkali memplokoto dokter muda. Mereka juga tidak hanya menguasai ilmu yang sesuai dengan bidang keahliannya, tak jarang seorang dokter spesialis ortopedi dan traumatologi mau membimbing laporan kasus yang berjudul “Hernia Ingunialis Lateralis” yang jelas-jelas merupakan bidang keahlian dokter spesialis bedah umum. Hebat kan…

Kesan pertama ketika saya masuk di stase obsgyn adalah capek. Capek yang saya rasakan di sini bukan karena pasiennya banyak, tapi karena saya harus merunduk-runduk setiap kali ketemu dokter dan bidan, yaaa…kayak jaman feodal gitu deh. Padahal, di stase bedah sikap seperti sangat diharamkan, memberi salam dan tersenyum saja saat berpapasan dengan dokter atau perawat sudah cukup dan kita tidak harus merunduk-runduk seperti halnya pembantu pada majikan. Selain capek fisik, saya juga merasakan capek hati.

Kesan lain yang muncul saat pertama kali saya masuk di stase ini adalah berantakan. Kenapa saya bilang seperti itu ??? Ya karena dokter-dokter di sini kurang akur satu sama lain, dan saling menjatuhkan temannya di hadapan bidan maupun dokter muda. Apalagi kalo lagi tentiran, ada saja kalimat yang dilontarkan untuk menyindir rekan sejawatnya. Tidak hanya dokter yang bersikap seperti ini, bidan-bidan pun juga bersikap seperti ini, saling menjatuhkan satu sama lain. Koq nggak malu ya ???

Selain itu, ada hal lain yang membuat saya ilfil sama stase ini. Apalagi kalo bukan jaga Ruang Bersalin (VK) selama 7×24 jam, dan tidak diijinkan pulang. Iiiiiih gak penting banget sih, emang kita gak punya rumah apa ??? Seminggu yang lalu, saya sudah merasakan tinggal di ruang bersalin. Jujur, rasanya nggak enak banget karena dokter muda tidak disediakan tempat tidur tersendiri. Kita bisa tidur kalo ada bed pasien yang kosong, lha kalo lagi banyak pasien gimana ??? Yaaa…terpaksa tidur sambil duduk dan alhasil besoknya kaki kita pada bengkak semua. OMG…

Tapi, diantara kesan-kesan buruk di atas, ada satu hal yang saya sukai dari stase ini, yaitu tidak ada kewajiban untuk membuat lapsus dan refrat. Yaaa…lumayan mengurangi aktivitas tubuh yang berlebihan setelah diforsir di ruang VK.

Pos ini dipublikasikan di My Co.Ass. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s