Doctor Wanna Be (Part 2)…

Setelah diterima menjadi mahasiswa FK UJ, perjuangan masih terus berlanjut. Aku masih harus beradaptasi dengan lingkungan baru sebagai ‘anak kos’ dan harus menjalani ospek seperti ‘mahasiswa baru lainnya’. Beradaptasi dengan lingkungan baru ternyata tidaklah mudah. Rasa malu dan takut menjadi halangan besar bagiku untuk bisa beradaptasi dengan cepat. Sampai-sampai aku harus menderita gastritis akut gara-gara nggak makan seharian. Ya namanya juga masih baru, jadi nggak tau di mana warung makan terdekat, udah gitu nggak mau nyanya lagi. Rasanya ingin pulang ke Malang saja waktu itu.

Ospek (Pengenalan Kehidupan Kampus), juga menambah rasa depresi dan frustasiku. Tugas yang banyak dan susah harus dikerjakan dalam waktu yang sangat singkat bahkan sampai tidak tidur semalaman. Ditambah lagi kakak-kakak panitia ospek yang hampir seluruhnya memasang tampang judes semakin membuat aku merasa tertekan. Dan menurutku, kegiatan-kegiatan dalam acara ospek ini benar-benar menguras uang, tenaga dan pikiran. Tapi, ada salah seorang kakak senior yang baik memberikan wejangan bahwa sesungguhnya kegiatan ospek ini disusun semirip mungkin dengan kehidupan mahasiswa kedokteran terutama kehidupan saat menjadi mahasiswa tingkat profesi yang penuh liku-liku dan kakak itu juga mengatakan bahwa kegiatan ospek ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kehidupan di rumah sakit.

Setelah menjalani ospek, akupun mulai menjalani kehidupan sebagai mahasiswa kedokteran. Kehidupan di kampus hanya diisi dengan kegiatan kuliah, praktikum, tutorial, dan skill lab. Sama sekali tidak ada tekanan, sangat santai bahkan saat menjalani ujian. Satu-satunya pressure terjadi saat aku akan menjalani ujian skripsi di mana aku harus mengalami banyak sekali hambatan. Hambatan tersebut adalah ditundanya waktu ujianku hingga beberapa kali, dan aku harus ikut wisuda pada periode berikutnya. Bersamaan dengan itu, aku mendapat nilai D pada mata kuliah patologi klinik, sehingga aku harus mengikuti ujian ulang. Lengkap sudah penderitaanku waktu itu. Stress ??? Oooh sudah pasti, sampai-sampai aku kena demam tifoid.

Tapi, aku menyadari apa yang terjadi padaku waktu itu merupakan awal dari kehidupan baruku di rumah sakit sebagai dokter muda. Semua kejadian itu terbukti semakin menguatkan mentalku dalam menjalani kehidupan di rumah sakit. Jenjang senioritas mahasiswa FK yang dulunya tidak terlalu nampak di kampus, menjadi sangat nampak. Tidak hanya dokter tapi juga perawat dan petugas medis lainnya, sehingga dokter muda (ko.ass) menempati urutan terbawah, kecuali kalau ada anak-anak AKPER/AKBID bisa sedikit mengangkat derajat kita:mrgreen: .

Kehidupan rumah sakit juga mengajarkan para calon dokter untuk selalu berkorban. Pengorbanan tidak hanya berupa uang karena biaya ko.ass yang mahal, tapi juga harus berkorban waktu (rela tidak liburan demi tugas  kemanusiaan) , tenaga (rela bekerja 24 jam saat jaga malam tanpa dibayar), dan pikiran (adanya tugas lain seperti refrat , lapsus, responsi yang semakin menambah ruwet pikiran saja). Semua itu sudah pernah aku rasakan di rumah sakit tempat aku dididik sekarang.

Pos ini dipublikasikan di Corat-coret Semau Gue. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s