Doctor Wanna Be… (Part I)

Menjadi dokter adalah cita-citaku sejak masih duduk di bangku TK. Sampai aku SMA pun profesi itu masih menjadi pilihan utama bagiku untuk menapaki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tapi taukah kalian, menjadi dokter itu ternyata tidak semudah yang aku bayangkan sebelumnya ? Perjuangan untuk masuk ke Fakultas Kedokteran yang notabene pendaftarnya sampe ribuan orang (setiap FK…bayangkan !!!) itu aja belum ada apa-apanya. Jika kalian adalah anak-anak SMA kelas XII Ilmu Alam (bener gak sih istilahnya kayak gini ???  kalo jamanku dulu sih nyebutnya 3 IPA) yang ingin masuk FK, ada baiknya kalian simak baik-baik tulisanku ini. Mungkin ini akan menjadi penyemangat buat kalian, tapi mungkin juga ini menjadi bahan pertimbangan kalian untuk memilih program studi lain, karena ini menyangkut masa depan kalian masing-masing.

Perjuangan  masuk FK itu dimulai sejak kalian masih duduk di bangku kelas X. Dulu, waktu aku kelas 1 SMA juga gitu. Sampe-sampe aku rela gak ikut ekskul gara-gara lebih mementingkan les di salah satu bimbingan belajar ternama di kota malang. Aku sempat diancam gak naik kelas sama wali kelasku, gara-gara gak ikut ekskul (bukan gak ikut sih, sebenernya aku pernah ikut salah satu ekskul tapi trus aku keluar gara-gara alasan tadi). Percaya ataupun tidak, dulu waktu SMA aku sama sekali gak peduli dengan kehidupan organisasi di sekolah (OSIS, MPK, dan organisasi lain), kuper abis pokoknya. Tapi ketidakpedulianku terhadap kehidupan organisasi di sekolah tersebut benar-benar menuai hasil. Prestasi akademisku di SMA tidak pernah lebih dari Rangking 4, bahkan waktu kelas 3 aku selalu juara I. Aku juga sempat mengikuti Olimpiade Kimia dan lolos sampai tahap berikutnya. Dan yang lebih membanggakan lagi, aku berhasil meraih NUN tertinggi di Kota Malang pada tahun 2006 dengan Nilai 29,80 (coba kalo nilai Bahasa Inggrisku juga 10,00 pasti nilaiku jadi sempurna 30,00).

Nilai-nilai yang bagus tersebut ternyata tidak membuat Panitia Penjaringan Siswa Berprestasi (PSB) di FK Universitas Brawijaya (FK UB) melirikku untuk menjadi mahasiswa di sana. Ada salah satu temanku tapi juga sainganku sejak SMP yang ternyata lebih menarik perhatian mereka. Dan aku atau alasannya apa. Pertama, dia selalu rangking 1 sejak kelas 1 SMA. Kedua, dia adalah anak dokter yang notabene juga mengajar di FK UB. Pupus sudah harapanku masuk FK UB lewat jalur PSB. Harapanku satu-satunya tertumpu pada SPMB/UMPTN (sekarang namanya SNMPTN, dasar pemerintah suka ganti-ganti istilah, padahal menurut guru bahasa inggrisku di SMA istilah yang paling pas itu UMPTN). Aku sudah berancang-ancang mempersiapkan diri untuk menghadapi SPMB, mulai dari ikut bimbel sampai istighosah (doa bersama) tiap hari Jumat bareng temen-temenku sekelas, 3 IPA 1. Percaya ataupun tidak, kalo mau lulus  SPMB itu tidak perlu pintar yang penting strategi. Dan itulah yang aku dapatkan selama ikut bimbel pra SPMB. Aku sengaja ikut program IPC biar aku bisa ngambil 3 pilihan program studi (kalo ngambil IPA, cuma bisa milih 2 prodi).

Tibalah saatnya aku membeli formulir SPMB. Ada 3 kolom pilihan prodi yang harus diarsir. Kolom pertama segera kuarsir kode prodi FK UB. Tapi kolom kedua dan ketiga belum diarsir sebab aku masih bingung. Dulu sebelum ayahku meninggal, kedua orang tuaku membebaskan aku kuliah di mana saja asalkan di universitas negeri. Tapi semenjak ayahku meninggal, ibuku berubah pikiran dan sempat tidak mengijinkan aku kuliah di luar kota. Padahal Prodi Pendidikan Dokter yang berstatus Negeri di Malang ini hanya ada di FK UB. Itu artinya aku harus rela, cita-citaku menjadi dokter tidak kesampaian jika nilai SPMB-ku tidak memenuhi passing grade FK UB. Akhirnya, aku memohon sama ibuku, supaya aku diijinkan memilih FK lain di luar Malang yang passing gradenya masih lebih rendah daripada FK UB. Dan pilihan itu jatuh ke FK Universitas Jember (FK UJ). Sedangkan pilihan ketiga, adalah Akuntansi UB (sesuai dengan pilihan program yaitu IPC, maka harus ada prodi IPS yang kupilih.

Setelah 1 bulan, hasil ujian SPMB akhirnya diumumkan. Aku membeli koran dan segera kulihat kode peserta ujian milikku dan ternyata aku diterima di FK UJ. Mungkin memang bukan rejekiku kuliah di FK UB. Tak apalah yang penting cita-citaku menjadi dokter bisa kesampaian. Toh jika aku menjadi dokter nanti, tidak akan ada pasien yang bertanya asal universitas kita, mereka hanya tau dokternya bisa mengobati sakit mereka atau tidak. Dari sinilah perjuangan yang lebih berat dimulai. Aku mulai mengumpulkan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk daftar ulang. Aku juga ngebut ngurus KTP, karena 2 minggu setelah ini aku akan segera meninggalkan Kota Malang tercinta untuk menuntut ilmu di Kota Jember.

To Be Continued…

Pos ini dipublikasikan di Corat-coret Semau Gue. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s